White Story 3

Red sangat kesal hari ini. Teman-temannya terus saja bicara omong kosong tentang gadis yang berada di festival api itu. Gadis yang berdansa dengan Sky. Gadis misterius yang menutup wajahnya dengan topeng. Bahkan rumor aneh tentang gadis itu sudah tersebar dengan cepat ke seluruh penjuru negeri.

Salah seorang temannya tidak sengaja menguping pembicaraan penjual topeng di kota yang juga berjualan saat festival berlangsung. Ia mengatakan bahwa rupa gadis itu sangat cantik. Kulitnya seputih susu dan tutur katanya sangatlah lembut. Ia bahkan tidak yakin gadis itu berasal dari negerinya. Ia sempat berpikir, mungkinkah gadis itu seorang putri raja yang sedang menyamar, mengingat gadis itu tidak pernah terlihat di kota.

Red yang sedang menggenggam sisir perak melempar sisir itu ke arah cermin hingga cermin itu pecah berkeping-keping. Ia sangat menyukai Sky sejak pertama kali melihat laki-laki itu di kota. Hampir setiap hari ia pergi ke kota hanya untuk melihat laki-laki itu, mencoba menarik perhatian laki-laki itu agar mau melihatnya. Usahanya berbuah hasil ketika Sky mengajaknya bicara ketika laki-laki itu tanpa sengaja hampir menabrak Red dengan kudanya. Setelah itu beberapa kali mereka sering bertemu dan berbincang sebentar – sebenanrnya lebih banyak Red yang menyapa terlebih dahulu – tapi tidak masalah, toh Sky akhirnya menyadari keberadaanya.

Tapi tiba-tiba saja gadis itu muncul dan seakan ingin merebut tempat yang sudah susah payah ia dapatkan. Red tidak akan tinggal diam. Ia pasti akan menemukan gadis itu dan membuatnya tidak bisa mendekati Sky.

“Putri raja atau putri bangsawan sekalipun tidak akan kubiarkan merebut milikku.”

***

White sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya sejak beberapa saat yang lalu. Kali ini hanya tinggal mencuci pakaian di sungai. Ia sengaja mengerjakan tugas mencuci itu terakhir agar White bisa membuat alasan untuk keluar rumah tanpa dicurigai ibu tirinya dan Red. Ketika ia hendak berangkat ke sungai, Violet menghampirinya.

“Itu benar kau, kan?” Tanyanya.

“Apa?” White tidak mengerti. Mereka akhirnya pergi menuju sungai bersama-sama.

“Gadis yang sedang dibicarakan orang-orang satu negeri ini?”

“Apa maksudmu Vi? Aku benar-benar tidak mengerti.”

Violet menghela napasnya sesaat dan berkata, “Gadis yang berdansa di pavilion dengan Sky. Aku ingat saat aku memanggilmu. Kau sedang berdansa dengannya.”

“Ah… itu. Aku memang berdansa dengannya. Memangnya kenapa? Berdansa di festival bukanlah hal yang salah.”

“Bukan masalah berdansanya, tapi dengan siapa kau berdansa White…” ucap Violet terdengar agak frustasi.

“Memangnya dengan siapa?”

“Tuan muda Sky!”

“Siapa itu tuan muda Sky?”

Violet menghela napasnya lagi. “Aku mengerti kau tidak pernah pergi ke kota, tapi masa kau tidak tahu siapa itu tuan muda Sky? Ia anak dari bangsawan Macmillan. Bangsawan terkaya dan terpandang di kota.”

“Benarkah?!” White terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka laki-laki yang berdansa dengannya memiliki kedudukan yang sangat tinggi di kota. Bagaimana bisa ia tidak menyadarinya saat hampir seluruh orang yang ada di festival itu memandang ke arahnya ketika sedang berdansa.

“Bagaimana ini? Seharusnya aku tidak menarik perhatian.” Lirihnya.

“Ini kesempatan bagus bagimu White. Jika kau bertemu dengan Sky, kau tidak perlu tersiksa dengan kehidupanmu yang sekarang. Red dan ibu tirimu tidak akan menyiksamu lagi.” Sahut Violet, ada nada antusias dalam setiap kalimatnya.

“Tidak. Kita harus menyembunyikannya. Menyembunyikan fakta bahwa aku adalah gadis itu. Aku mohon jangan katakan hal ini pada siapapun, Vi.”

“Tapi White…”

“Aku mohon Vi. Jangan sampai ada yang tahu. Aku tidak ingin menambah masalah untuk saat ini.”

“Baiklah.”

White membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Violet ketika mereka hampir saja tiba di sungai. “Aku harus pergi ke suatu tempat.” Ujarnya.

“Eh, kau mau kemana??”

“Ada sesuatu yang harus kulakukan. Aku akan menyusulmu ke sungai nanti.” Ucap White sambil berlari menjauh dari Violet menuju ke hutan. Tempatnya bertemu dengan laki-laki yang menyelamatkannya, juga laki-laki yang berdansa dengannya.

White berjalan masuk ke dalam hutan sambil membawa keranjang pakaiannya. Di bawah pakaian itu, ia sudah menyiapkan berbagai jenis makanan yang telah ia buat untuk ia serahkan sebagai tanda terima kasih kepada laki-laki itu. Tapi mendengar cerita Violet barusan, hatinya jadi ragu. Laki-laki itu sudah memiliki segalanya, apa ia akan menerima makanan sederhana buatannya ini?

White pun tiba di tempat ia bertemu dengan Sky sebelumnya, namun ia tidak mendapati keberadaaan laki-laki itu di mana pun. Mengingat status dirinya yang tidak lebih dari seorang pelayan, wajar saja jika Sky memutuskan untuk membatalkan pertemuannya dengan White. Gadis itu akhirnya membalikkan tubuhnya dan tertunduk lesu, ia berniat untuk kembali pulang.

“Kau mau kemana?”

White menegakkan tubuhnya mendengar suara laki-laki yang memanggilnya. Ia menoleh kesana-kemari tapi sosok yang memanggilnya tidak terlihat. Ia pun mengerutkan dahinya.

“Di atas sini.”

Gadis itu mendongakkan kepalanya dan melihat Sky berada di atas pohon sambil memakan buah apel. Sky melompat dari pohon itu dan mendarat tepat di hadapan White. Senyuman laki-laki itu menghangatkan dan membuatnya juga ikut tersenyum.

“Kukira kau tidak akan datang. Aku sudah menunggumu cukup lama. Apa yang kau bawa?” Tanya Sky sambil memandang wajah White.

Gadis itu pun tersadar bahwa ia sedang melamun. “Oh… ini hanya… pakaian yang harus kucuci.” Ucapnya sambil menunduk malu.

“Kau tidak membawa makanan? Aku sangat lapar, karena meninggalkan rumah sebelum jam makan siang tiba. Kukira kau akan membawakanku makanan.”

Sky tidak mempermasalahkan status gadis itu yang sepertinya hanyalah seorang pelayan. White bahkan membawa pekerjaannya saat bertemu dengan Sky. Gadis itu sederhana, namun di balik kesederhanaannya itu dia tampak mempesona. Wajahnya yang putih tampak bercahaya di terpa sinar matahari yang muncul dari sela-sela dedaunan. Ia tidak menyadarinya semalam karena gelap, tapi ia tahu gadis itu cantik. Ia hanya tidak menyangka gadis itu akan secantik ini.

“Mmm… sebenarnya, aku membawakanmu makanan, tapi aku tidak tahu apa kau akan menyukainya atau tidak.” Ujar White masih ragu.

“Benarkah? Kalau begitu… bagaimana kalau kita makan bersama di pinggir sungai saja. Disini sangat tidak nyaman untuk piknik.” Ucap Sky sambil menuntun gadis itu menuju pinggir sungai.

Mereka pun menikmati makanan yang dibawa White bersama-sama. Mereka berbincang dan terlihat sangat bahagia. Sky banyak mengeluh soal hidupnya di mansion besar keluarganya, tentang tuntutan yang harus ia kerjakan. Sedangkan White hanya mendengarkan, sesekali ia menanggapi ucapan Sky. Sampai akhirnya Sky menanyakan hal sangat penting yang hampir saja ia lupakan lagi.

“Kita sudah berbincang lama, tapi aku belum mengetahui namamu.”

White tertegun sesaat, ia sama sekali tidak berharap Sky menanyakan namanya. White tidak ingin mengetahui bahwa laki-laki yang ada di hadapannya ini memanglah laki-laki berkedudukan tinggi bernama Sky. ‘Aku hanya berharap kita tidak saling menyebutkan nama dan status masing-masing agar kita bisa bertahan seperti ini lebih lama’, batinnya.

“Mmm… begini. Bukannya aku tidak ingin memberitahukan namaku, tapi bagaimana jika kita melupakan apapun hal yang tidak penting dan hanya bersandar satu sama lain saja di hutan ini. Tidak ada nama ataupun jabatan.”

Sky terlihat memikirkan ucapan White beberapa saat. “Baiklah. Kita bisa mengeluarkan keluh kesah kita satu sama lain tapi tidak dengan menyebut nama. Aku suka itu, tidak ada jabatan, tidak ada perbedaan status. Hanya ada kita. Tapi tetap saja aku harus memanggilmu jika sedang bicara denganmu, rasanya sangat aneh jika hanya memanggi dengan sebutan aku dan kamu.”

“Kau bisa memanggilku Miss Apple seperti apel yang sedang kau makan itu.” Ucap White yang sebenarnya tanpa ia pikirkan terlebih dahulu. Sky tertawa mendengar usul White.

“Oke, kalau begitu kau bisa panggil aku Mr. Bread, seperti roti yang sedang kau makan itu.” Ucapnya tidak mau kalah.

Mereka pun tertawa bersama, berbagi cerita satu sama lai tentang hari mereka. Tanpa nama, tanpa jabatan, tanpa status yang menghalangi keduanya. Hanya ada mereka dan rahasia yang mereka bawa.

.

.

.

.

(Next Part)

Yee… sampai sini dulu deh. Kayaknya beberapa part lagi cerita ini akan selesai. Terima kasih atas waktu luangnya membaca ceritaku ini. Agak susah sebenarnya meneruskan cerita ini karena selain banyak kegiatan yang harus aku jalani, banyak hal juga yang sedang aku pikirkan dan ide untuk kelanjutannya ga bisa muncul. 

Sekali lagi terima kasih atas waktu luangnya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s