White Story 1

Previous Story : TIME

Ini cerita sekuel dari cerita pendek yang ku buat berjudul “Time“. Kalau “Time” lebih menampilkan genre fantasi dan kehidupan, maka cerita “White Story” ini menampilkan kehidupan White sebagai tokoh utama yang sebelumnya hanyalan selingan di cerita “Time“. Cerita ini aku buat atas permintaan salah satu sahabatku yang ingin mengetahui kelanjutan bagaimana kehidupan White selanjutnya. Cerita ini tidak terlalu berkaitan dengan ceritaku yang sebelumnya.

Well, tidak perlu berlama-lama, langsung saja disimak ceritanya…

 

White Story 

2

White tidak menyangka hidupnya akan berubah seratus delapan puluh derajat sejak kematian ayahnya. Ibu tiri yang selalu menyayanginya dan Red yang selalu membantunya dalam sekejap berubah menjadi tidak berperasaan. Memperlakukan White seakan gadis itu hanyalah seorang pelayan di rumahnya sendiri. Ibu tirinya menggunakan harta ayahnya untuk bersenang-senang dan mengenakan perhiasan milik ibunya untuk pamer ke teman-temannya. Red mengambil semua hal milik White, mulai dari pakaian hingga kamar tidurnya. Kini White tinggal di loteng, tempat yang seharusnya hanyalah dijadikan tempat penyimpanan barang kini menjadi kamar tidurnya. Pakaian-pakaian lusuh milik pelayannya terdahulu kini menjadi pakaiannya. Ia sering ditinggal di rumah sendiri, menjalankan tugasnya membersihkan rumah, mencuci pakaian, memasak makanan untuk Red dan Ibu tirinya, sedangkan mereka pergi ke kota untuk bersenang-senang.

White juga ingin pergi ke kota, melihat bagaimana keramaian menyembunyikan kepedihan yang sedang ia alami saat ini, tapi Red dan Ibu tirinya tidak pernah mengijinkannya pergi.

“Kenapa melamun?” Tanya Violet, gadis yang tinggal tidak jauh dari rumahnya itu setiap hari selalu menemaninya mencuci pakaian di sungai. Violet yang selama ini menjadi teman bicaranya. Orang tua Violet berteman baik dengan orang tuanya dan sekarang Violet menjadi sahabat baiknya.

“Violet, kau pernah pergi ke kota?” Tanya White sambil menatap derasnya arus sungai di hadapannya.

Violet mengangguk, “Tentu saja pernah. Ibu sering mengajakku membeli beberapa bahan makanan di kota.”

“Bagaimana suasana di sana? Apakah ramai?” Tanyanya kali ini dengan nada antusias.

Violet lagi-lagi menganggukkan kepalanya. “Ramai sekali. Banyak orang-orang berlalu lalang  di sana, banyak makanan enak yang belum pernah kucoba sebelumnya, para penjual di sana juga ramah. Aku bahkan tidak sabar menanti ibuku mengajakku ke kota lagi.”

“Senangnya. Aku bahkan belum pernah sekalipun pergi ke sana.” Ujar White sedih.

Tidak tega melihat kesedihan sahabatnya, Violet pun terpikirkan satu hal yang mungkin saja akan membuat White kembali ceria. “Mau ke kota bersamaku nanti malam?”

White melebarkan matanya tidak percaya sambil memandang Violet, apa ia baru saja mendengar Violet mengajaknya ke kota?

“Iya, kita akan ke kota nanti malam. Kau tahu nanti malam akan diadakan festival di kota. Namanya festival api, diadakan setiap setahun sekali di musim panas. Akan ada banyak penjual makanan, pakaian, dan hal-hal menarik lainnya di sana. Kita juga bisa menari mengelilingi api unggun yang besar di festival api.”

White tidak bisa menyembunyikan binar di wajahnya. Ia sangat senang Violet mengajaknya pergi. Namun dalam sekejap binar itu menghilang tergantikan dengan raut wajah cemas. “Tapi bagaimana dengan Red dan Ibu tiriku? Mereka pasti tidak akan mengijinkanku pergi.”

“Kita pergi diam-diam setelah mereka terlelap. Tenang saja, festival api akan diadakan sepanjang malam. Kita bisa menikmati festival itu dan kembali sebelum pagi tiba.”

White tersenyum mendengar usul Violet, mereka pun mengatur janji bertemu di tempat mereka berada sekarang ketika matahari sudah terbenam dan seluruh keluarganya sudah tertidur. Perjalanan dari desa tempat tinggal mereka dengan kota tidak begitu jauh jika mereka melewati hutan. Akan tetapi hutan itu sangat gelap di malam hari karena tidak ada pencahayaan sedikitpun. Lagipula jalan melewati hutan bukanlah jalan utama menuju kota. Jalan hutan hanyalah jalan pintas. Mereka tidak bermaksud melalui jalan itu, namun melewati jalan utama juga bukan pilihan yang bagus karena akan membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai di kota apalagi dengan berjalan kaki.

Ketika malam tiba dan White sudah menyediakan makan malam untuk Red dan Ibu tirinya, White tidak sengaja mendengar ibu tirinya dan Red sedang membicarakan festival itu. Ternyata mereka juga berniat mengunjungi festival api malam ini. Mengetahui hal itu White jadi sedikit murung. Ini kesempatannya untuk bisa pergi ke kota, tapi ternyata kesempatan yang ia miliki tidak bisa ia raih saat ini.

‘Tentu saja, semua orang pasti ingin pergi ke festival itu. Apalagi festival itu adalah festival besar. Bagaimana aku bisa pergi ke sana kalau ibu dan kakak tiriku juga pergi ke sana? Jika mereka melihatku, mereka pasti akan segera memarahiku.’ Pikir White.

Maka malam itu ketika Red dan Ibu tirinya sudah pergi ke festival api meninggalkan dirinya, White berjalan menuju sungai dan bertemu dengan Violet di sana. Ia bermaksud membatalkan rencana mereka untuk pergi ke kota.

“Violet, sepertinya aku tidak bisa pergi.”

“Memangnya ada apa White? Apakah ibu tiri dan Red tahu rencana kita?” Tanya Violet sedikit kecewa.

“Tidak, mereka tidak tahu. Mereka juga pergi ke festival, aku takut akan berpapasan dengan mereka di festival api.”

Violet mengerti kekhawatiran sahabatnya, tapi ini adalah kesempatan yang baik untuk membawa White ke kota. Apalagi setelah mengetahui ayahnya dengan senang hati mengantar kepergian mereka dengan kereta kuda miliknya, ia tidak ragu lagi untuk mengajak White. Sekarang gadis itu malah berniat membatalkan rencana mereka.

“Kau tidak usah khawatir. Kita tidak akan ketahuan oleh mereka. Aku akan memastikan mereka tidak akan tahu kau pergi ke festival itu. Kita akan kembali sebelum mereka tiba di rumah. Percayalah padaku.”

White terdiam beberapa saat memikirkan perkataan Violet. Ia harus percaya pada sahabatnya itu. Ia juga tidak yakin akan ada kesempatan bagus lainnya untuk pergi ke kota. Ia sudah berniat untuk menerima segala resiko dari setiap perbuatannya termasuk menerima siksaan dari Red dan Ibu tirinya lagi.

“Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi ke sana.”

Violet tersenyum mendengar keputusan sahabatnya. Ia pun segera membawa White ke rumah untuk bertemu ayahnya. Mereka akan pergi bersama-sama ke festival itu.

Gemerlap lampion berwarna-warni di sepanjang jalan kota memeriahkan suasana festival api. Semua orang bersenang-senang di sana, termasuk White dan Violet. Mereka sudah tiba di kota sejak beberapa saat yang lalu. Violet selalu mengajaknya mencicipi makanan-makanan dari kedai yang ada di festival itu. Mereka terlihat sangat gembira, terlebih lagi White karena impiannya tercapai. Ia memandangi lampion-lampion itu sambil tersenyum. Lalu Violet menyodorkan sesuatu ke arahnya dan White menatap ke arahnya dengan pandangan bertanya.

“Pakailah. Aku membelinya. Ini bisa menutupi wajahmu agar Red dan Ibu tirimu tidak mengenalimu ketika kau berpapasan dengan mereka. Kita bisa menikmati festival ini tanpa perlu cemas.”

White tersenyum, ia meraih topeng itu dan memakainya. Meskipun topeng itu hanya menutupi sebagian wajahnya, tapi setidaknya memperkecil kemungkinan Red dan Ibu tirinya untuk mengenalinya.

Setelah puas menikmati berbagai jenis jajanan yang dijual di festival itu, White dan Violet berjalan menuju alun-alun kota untuk melihat orang-orang menari mengelilingi api unggun. White terpukau melihat banyaknya orang yang menari secara berpasangan mengelilingi api unggun besar tersebut. Violet pun tidak ingin hanya melihat saja, ia menarik tangan White dan mengajaknya untuk menari bersama.

Mereka menari bergantian secara berpasangan. Setelah mengangkat tangan dan bergandengan dengan pasangan mereka, kemudian orang-orang yang menari akan memutar tubuh dan berpindah menuju pasangan selanjutnya.

White menari dengan riang, tidak pernah ia menari sebebas ini. Beban yang dipikulnya seakan terangkat begitu saja dan tubuhnya menjadi sangat ringan. Tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang dan tubuhnya sudah berjalan mengekori langkah orang itu menuju panggung kecil tidak jauh dari api unggun berada. Mereka pun melanjutkan tarian di sana.

“Kau menari dengan sangat indah. Bisakah kau mengajariku bagaimana caranya?” Ujar laki-laki itu masih dengan menggandeng tangan White dan sesekali merangkul pinggang White mengajak menari bersama.

“Aku tidak tahu bagaimana cara menari dengan benar. Aku hanya mengikuti alurnya saja. Kupikir justru kau yang pandai menari.” Ucap White sambil memandang wajah laki-laki itu meski tidak terlalu jelas karena kurangnya cahaya di sekitar mereka. Namun dalam pandangan White saat ini, laki-laki itu sangat tampan, tubuhnya tegap ketika White tidak sengaja menyentuh bahu laki-laki itu ketika menari. Rambutnya berwarna gelap dan White tidak yakin warna bola mata laki-laki itu sama gelapnya dengan warna rambutnya. Yang ia tahu ia tidak bisa memalingkan wajahnya dari laki-laki itu.

Laki-laki itu tertawa sesaat sebelum menanggapi ucapan White. “Hahaha… aku memang pandai menari, itu sudah seperti sebuah keharusan untukku, tapi aku tidak bisa menari seindah kau. Kau terlihat sangat bebas ketika menari dan aku menyukainya.”

White tersipu malu mendengar pujian yang dilontarkan laki-laki itu. Dirinya memang sedang sangat bahagia, ia sampai tidak sadar kebahagiaannya itu memancar sampai ke setiap gerakannya.

Laki-laki itu terus memandang ke arah White, namun ia merasa terganggu dengan topeng yang White kenakan. “Bolehkah aku melepas topengmu?”

White memandang laki-laki itu sambil melebarkan matanya, ia tidak boleh melepas topengnya. Ia tidak mau Red dan Ibu tirinya sampai tahu keberadaannya di sini, apalagi entah sejak kapan mulai banyak orang memandanginya saat ini. White sampai bingung dengan banyaknya orang yang berkerumun di sekitarnya menyaksikan White seakan-akan White sedang melakukan sebuah pertunjukkan yang tidak boleh dilewatkan.

“Maafkan aku. Aku tidak bisa melepas topeng ini karena wajahku sangat buruk dan aku sedikit tidak nyaman jika melepas topengku.”

“Baiklah jika itu membuatmu tidak nyaman, aku tidak akan memaksa.”

Mereka melanjutkan tarian mereka, masih dengan iringan musik yang sama disertai dengan tatapan kagum di sekitar mereka. White tidak merasa lelah sekalipun meski ia telah menari berjam-jam lamanya dengan laki-laki yang bahkan tidak ia tahu namanya. Yang ia tahu laki-laki itu tidak merasa terganggu dengan kehadirannya. Meski pakaian yang ia kenakan tidak sebagus pakaian gadis-gadis lainnya yang mengunjungi festival, tapi laki-laki itu tidak mempermasalahkannya dan tetap mau menari bersamanya. Ada seseorang yang menghargai kehadirannya membuat White sangat senang.

Hampir sepanjang malam mereka menari di atas panggung kecil itu sampai seseorang menarik lengan White dan membawanya menjauh dari tempat itu. Ia melihat seorang gadis dengan topeng yang juga menghiasi wajahnya berjalan di depannya sambil terus menarik tangan White.

“Aku mencarimu kemana-mana, sudah saatnya kita pulang. Aku melihat Red dan Ibu tirimu baru saja meninggalkan festival. Kita tidak akan sempat sampai di rumahmu sebelum mereka tiba jika tidak pulang sekarang juga.”

White dan Violet pun segera berlari menuju kereta kuda milik ayah Violet. Mereka harus segera pulang sebelum Red dan Ibu tirinya menyadari jika White tidak ada di rumah. Kereta kuda pun melaju dengan kencang membelah kegelapan malam, namun di tengah jalan, seekor rusa liar tengah melintas dengan cepat di depan kereta kuda yang mereka tumpangi, membuat sang kuda terkejut dan melonjak marah. Kereta kuda mereka hampir saja terjungkal jika ayah Violet tidak bisa mengendalikannya. Akan tetapi akibat kuda yang berhenti dan melonjak tiba-tiba, White yang duduk di tepi kereta kuda itu terjatuh dan tertinggal di belakang. Violet yang panik terus menerus meneriaki nama White dan meminta ayahnya untuk menghentikan kereta kudanya. Sayangnya kereta kuda itu seperti tidak ingin mendengar ucapan majikannya dan terus berlari dengan kencang meninggalkan White di tengah kegalapan malam.

 

(Next Part 2)

Nah, kira-kira nasib White gimana ya? Bisa nggak dia sampai di rumah sebelum Red dan Ibu tirinya pulang??

Cerita ini aku buat jadi dua bagian karena kepanjangan kalau dijadiin satu. Selama part dua dalam proses rilis, silahkan kalian menerka-nerka bagaimana kelanjutan ceritanya. Hehehehe… 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s