White Story 2

Lanjutan dari “White Story 1″…

 

White menatap nanar ke arah kereta kuda dan Violet yang berjalan menjauh darinya. Tangan dan kakinya terluka akibat terjatuh tadi, untungnya hanya luka ringan saja yang ia derita. Setidaknya ia masih bisa berjalan sampai ke rumah. Biarlah Ibu tiri dan Red tahu tentang kepergiannya. Ia bahkan sudah siap menerima resiko dari rencana melarikan dirinya malam ini.

Gadis itu menghela napas. Jarak menuju rumahnya masih jauh karena kereta kuda milik ayah Violet belum jalan terlalu jauh meninggalkan kota. White menoleh ke kanannya dan mendapati hutan gelap dengan pepohonan yang daun-daunnya berdesir sesekali tertiup angin malam. Ia bisa saja berjalan pulang melewati hutan tersebut, tapi ia tidak tahu bahaya apa yang menantinya jika ia melewati hutan di malam hari.  Ia memikirkan lagi jalan mana yang harus ia tempuh untuk sampai di rumah. Jalan utama yang membutuhkan waktu hampir dua jam atau jalan pintas melewati hutan yang hanya memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit  dengan segala bahaya yang ada di dalamnya?

Ketika ia sedang memikirkan hal itu, samar-samar ia mendengar suara derap langkah kaki kuda mendekat ke arahnya. Dari jauh ia bisa mengenali kereta kuda yang mendekat, itu adalah kereta kuda yang ditumpangi ibu tirinya dan Red ketika mereka pergi ke festival tadi. White segera menyingkir, bersembunyi di balik rimbunnya semak-semak untuk menghindari kereta kuda tersebut. Tanpa pikir panjang White segera berlari masuk ke dalam hutan, ia memutuskan untuk berjalan pulang melewati hutan.

“Mungkin masih sempat jika aku bergegas.” Gumamnya sambil terus berlari. Ia tidak menghiraukan luka yang didapatnya dari terjatuh tadi, yang ada dipikirannya hanyalah ia harus sampai di rumah sebelum Red dan Ibu tirinya tiba.

White berlari tanpa melihat kiri dan kanan, ia mengambil jalan yang diterangi cahaya bintang dan tidak tertutup pepohonan. Langkahnya sedikit melambat karena ia kelelahan. Ia pun berhenti sejenak untuk menormalkan detak jantung dan napasnya.

SREEKK

Suara gesekan dedaunan itu menarik perhatiannya. Ia tidak berpikir panjang ketika sedang berlari tadi, namun ketika sedang beristirahat ia jadi memikirkan adanya bahaya yang sedang mengintainya di dalam kegelapan itu. Ia sempat meragukan kehadiran binatang buas di hutan tempatnya berada sekarang, karena hutan ini tidak terlalu luas. Lagipula White masih berjalan di bagian luar hutan tersebut, masih belum terlalu jauh masuk ke dalam hutan. Lalu apa yang sekarang sedang mengintainya dan membuatnya cemas seperti ini? Hantu kah??

White menggelengkan kepalanya guna mengusir pikiran negatif dalam kepalanya. Ia tidak boleh terpengaruh dengan suara-suara yang ada di sekitarnya. Ia tidak percaya hantu. White terus merapalkan mantra itu di dalam hatinya sambil kembali berjalan menyusuri hutan, berharap mantra itu dapat menenangkan hatinya.

SREEEKK

Suara itu terdengar lagi, White berangsur-angsur menutup matanya dan membukanya beberapa saat untuk melihat jalan, lalu menutup matanya kembali dan mengulangi hal itu sampai beberapa kali. Ia tidak ingin terganggu dengan suara aneh di sekitarnya, tapi ia sendiri tidak bisa memungkiri bahwa sedikit banyaknya suara itu mempengaruhi dirinya.

SREEKK SREEKK

Kali ini White sudah tidak peduli lagi, ia berlari sekuat tenaga menyusuri jalanan hutan yang gelap tanpa tau kemana arahnya. Ia bahkan berteriak ketakutan hanya karena suara-suara yang tidak jelas asal usulnya itu. Lalu sesaat setelah ia berlari…

BRUGH

Seseorang menangkap tubuhnya, White terdiam beberapa saat mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Ia ingin berteriak tapi napasnya tercekat dan suara yang sudah ia kumpulkan tidak bisa ia keluarkan. Akhirnya ia terjatuh di tanah dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Tolong, jangan makan aku. Aku mohon, selamatkan aku,” gumamnya sambil terisak.

“Hei, hei, kau kenapa menangis?”

“Apa ini? Apa hantu bisa bicara selembut ini pada manusia? Bahkan suaranya saja sangat merdu.” Ucap White melantur.

‘Seseorang’ yang ditabrak oleh White terkekeh geli melihat tingkah laku gadis itu. Padahal ia hanya sedang mencari kunang-kunang untuk adiknya di hutan karena adiknya terus merengek meminta padanya, namun tidak disangka ia malah bertemu dengan seorang gadis yang tengah berlarian di dalam hutan.

“Nona, kau baik-baik saja? Apa kepalamu terbentur sesuatu? Sepertinya tangan dan kakimu terluka.”

White memberanikan diri mengangkat kepalanya setelah mendengar nada suara laki-laki itu terlihat mencemaskan dirinya. Ia memang terjatuh tadi, tapi sepertinya kepalanya baik-baik saja. “Kau manusia?” Tanyanya sekali lagi memastikan.

“Tentu saja aku manusia. Kau berpikir aku ini hantu?” Jawab laki-laki itu yang tidak berusaha menyembunyikan kekehannya.

White menatap wajah di hadapannya dengan seksama. Matanya membulat ketika mengetahui siapa laki-laki yang sekarang sedang berada di hadapannya itu. Laki-laki yang tadi menari bersamanya di festival.

‘Ternyata warna matanya cokelat,’ pikirnya saat jarak wajah antara keduanya berdekatan. Ia merutuki pemikirannya sendiri, bagaimana bisa di saat seperti ini ia justru mengagumi mata laki-laki itu?

“Kau terluka,” itu bukan pertanyaan tapi pernyataan yang dilontarkan laki-laki itu padanya. White menoleh ke arah luka di lengan dan di kakinya. Memang tidak besar, tapi luka itu sudah mulai membiru karena terlambat diobati. White pun segera menutupi luka di lengannya itu dengan tangannya.

“Hanya luka kecil, tadi aku terjatuh.”

“Luka kecil seperti itu juga harus diobati. Kau itu seorang perempuan, harusnya kau menjaga dirimu dengan baik. Sini kubantu mengobati lukamu.” Laki-laki itu berjalan sambil menggandeng lengan White, ia menuntun White menuju sumber air yang berada di dalam hutan tersebut. Mereka pergi ke tepi sungai. Ternyata aliran sungai tempat White biasa mencuci pakaian mengalir melewati hutan ini.

Laki-laki itu membasuh luka White dengan saputangan miliknya yang sudah dibasahi air. Sesekali White meringis merasakan dinginnya air sungai yang secara tidak langsung menyentuh kulitnya.

“Memangnya apa yang sedang kau lakukan hingga kau terjatuh dan terluka seperti ini?” Tanya laki-laki itu lagi sambil meniup luka di lengan White.

White berpikir sejenak, ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia terlempar dari kereta kuda karena mengejar waktu bukan? Ia juga tidak bisa sembarangan mengatakan bahwa ia baru saja kembali dari festival api. White tidak mengenal orang ini, ia tidak tahu apakah laki-laki di hadapannya mengenal Red dan ibu tirinya atau tidak.

Mengingat Red dan Ibu tirinya ia sadar jika saat ini ia sedang membuang waktu berharganya. Ia tidak bisa berlama-lama di tempat ini dengan kemungkinan Red dan ibu tiri sudah tiba di rumah sangat besar. White pun beranjak dari tempatnya bermaksud ingin pulang ke rumah.

“Maafkan aku, aku harus pergi. Aku baru mengingat ada hal penting yang harus aku lakukan dan ini sangat mendesak.” Ucap White sedikit menyesal meninggalkan laki-laki baik hati yang menolongnya.

Laki-laki itu pun seakan tidak membiarkan White pergi dengan menggenggam lengannya. “Tapi…”

“Aku mohon, lepaskan tanganmu. Aku benar-benar harus pergi.” Pinta White.

“Baiklah, tapi kau harus berjanji. Besok ketika matahari sudah berada di atas kepala, aku menunggumu di tempat ini. Setidaknya datanglah untuk membalas perbuatan baikku.” Ucap laki-laki itu sambil melepaskan genggamannya dari tangan White, sedangkan gadis itu mulai berlari meninggalkannya.

“Kau harus berjanji padaku!!” Serunya mengingatkan White tentang permintaannya.

“Baiklah!” Balas White sebelum menghilang di balik pepohonan rindang dan kegelapan malam.

Laki-laki itu tersenyum sambil memandang tangannya, beberapa saat kemudian ia tersadar dan menyesali satu hal yang tidak ia lakukan. “Aahh… aku bahkan tidak tahu namanya.”

Begitulah akhirnya White kembali ke rumah dengan selamat dan tepat sebelum kereta kuda yang membawa Red dan Ibunya tiba. Sesampainya di rumah, ia segera masuk ke kamar tidurnya di loteng dan memandang bintang-bintang di langit yang sedang bersinar dengan indahnya. Sesekali ia tersenyum mengingat bagaimana ia bertemu secara kebetulan dengan laki-laki itu. Ia bahkan mengiyakan untuk bertemu dengan laki-laki itu esok hari di tempat yang sama di dalam hutan. Ia tidak menyangka hutan yang sempat membuatnya takut hingga enggan menginjakkan kaki di dalamnya justru menjadi tempat yang paling ia kunjungi saat ini.

 

(Next Chapter)

Huaaa… saking semangatnya nulis yang tadinya mau bikin jadi 2 chapter aja malah jadi keterusan deh. Hehehe…

Kali ini aku nggak bisa menjanjikan berapa chapter yang akan kubuat. Yang pasti cerita ini bukan cerita panjang. Cuma cerita pendek yang mungkin nggak lebih dari 5 chapter. Untuk kepastian berapa chapter bakal diselesaiinnya, aku ga bisa memastikan tuh. Biarlah mengalir apa adanya selagi idenya masih bisa kukembangkan dalam cerita ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s