Waktu, seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung. Waktu tidak dapat diputar kembali, tidak seperti kaset yang memiliki tombol rewind bisa mengulang waktu. Bagi sebagian orang, waktu mereka sangat berharga karena mereka mengejar suatu hal yang sangat besar bagi mereka. Sudah pasti mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu berharga mereka hanya untuk mengurusi hal sepele. Namun terkadang hal sepele yang membutuhkan sedikit waktu saja bisa mendatangkan hasil yang tidak terduga.

“Waktu anda terbatas, jadi jangan membuang-buang waktu untuk menjalani hidup orang lain. Begitulah kata Steve Jobs.” Ujarku sambil membawa setumpuk buku di tangan yang nantinya akan kukembalikan ke perpustakaan.

“Siapa itu Steve Jobs??” Tanya Hiro yang sedang berjalan di sampingku sambil memakan es krim vanilla kesukaannya.

“Entahlah, aku hanya membacanya di buku yang biasa dibaca oleh manusia. Kau tahu, itu sangat menyenangkan. Banyak sekali pendapat mereka tentang waktu yang menyesuaikan dengan keadaan mereka dan menurutku tidak ada yang salah, semuanya memang benar.” Jawabku.

“Sica, kebanyakan manusia lebih sering menganggap waktu itu adalah uang. Mereka tidak sadar jika waktu lebih dari sekadar uang. Jika sudah berurusan dengan benda satu itu, semuanya mendadak menjadi gila.” Tambah Hiro.

Aku menghela napas, yah memang banyak yang beranggapan seperti itu. Seseorang sebenarnya harus menyadari berapa waktu yang tersisa untuk dirinya. Satu tahun? Satu bulan? Satu minggu? Satu hari? Satu jam? Satu menit? Atau mungkin satu detik lagi waktu yang tersisa bagi mereka. Tidak ada yang tahu bukan? Setidaknya mereka harus bersiap ketika kami datang mengambil waktu yang tersisa bagi mereka.

Untuk itulah kami ada disini, di kerajaan Waktu ini. Tugas kami adalah mengambil waktu yang tersisa dari para manusia yang sudah kehabisan waktu. Aku, Mina dan Hiro bertugas untuk mengambil waktu berharga para manusia setelah mendapat persetujuan oleh dewan pertimbangan waktu. Para manusia memanggil kami dengan sebutan dewa kematian, tapi kami bukanlah dewa kematian. Tugas kami hanya mengambil waktu, bukan mengantar roh ke alam lain.

TEEEETTTTTTT

Sudah saatnya!

Hiro dan Mina berlari menuju ruangan mereka mengambil berbagai perlengkapan yang mereka butuhkan dalam bekerja. Aku pun menyusul mereka di belakang, tidak ingin terlambat melaksanakan pekerjaan yang sangat penting ini.

“Aku duluan!” Ujar Hiro.

“Kami akan menunggumu di pintu masuk.” Tambah Mina.

Aku mengangguk kemudian kembali membaca berkas yang sudah berada di tanganku. Setelah selesai membaca berkas itu, aku pun bergegas menyusul Mina dan Hiro ke pintu masuk ruang waktu. Ruang waktu adalah tempat yang harus kami, para pekerja Kerajaan Waktu lewati untuk sampai di dunia manusia. Pintu masuk ruang waktu sangat dijaga dengan ketat dan tidak sembarang orang dapat dengan mudah masuk ke dalamnya. Hanya orang-orang yang sudah diberi ijin khusus saja termasuk aku, Mina dan Hiro yang bisa masuk ke dalam. Untuk sampai disana, kami harus melewati para penjaga yang menjaga pintu luar menuju pintu ruang waktu. Mereka yang akan membuka jalan berupa lorong menuju pintu ruang waktu. Dalam keadaan biasa, lorong itu tidak akan menuju pintu ruang waktu. Jika ada penyusup yang memaksa masuk, maka lorong itu akan langsung terhubung kembali ke hadapan para penjaga.

Aku pun melangkah sepanjang lorong itu. Hiro dan Mina sudah menanti di ujung lorong itu, mereka tersenyum ke arahku. Kali ini tugas kami tidak sulit namun kami tidak boleh meremehkannya.

“Waktunya hanya tinggal tiga puluh menit lagi, kulihat dia sedang berpamitan dengan keluarganya. Sepertinya dia menyadari kehadiran kita sebentar lagi.” Ujar Mina.

Aku mengangguk, “Biarkan dia menggunakan waktunya sebaik mungkin sebelum kita mengambilnya. Semuanya sudah siap?”

Kali ini Hiro yang menggangguk, “Kita hanya tinggal menjalankan tugas saja”.

“Bagus, ayo kita lakukan! Hiro, Mina dan Sica siap menjalankan tugas”. Aku membuka pintu masuk ruang waktu, dalam sekejap cahaya putih langsung menyelimuti tubuh kami dan kami pun tiba di dunia manusia.

.

.

.

.

Orang-orang itu menangis mengelilingi seorang pria yang terbaring lemah di atas ranjang. Tubuhnya sangat lemah, wajahnya pucat, bahkan untuk sekadar menggerakkan bibirnya saja ia kesulitan. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, ia berusaha menggapai tangan seorang wanita yang berada di sisinya. Ia tersenyum mengisyaratkan pada wanita itu semuanya akan baik-baik saja, namun wanita itu masih menangis dengan tersedu-sedu menatap pria di hadapannya. Di belakang wanita itu berdiri seorang gadis yang lebih muda, kepalanya tertunduk dan matanya merah karena terlalu banyak menangis. Ia berusaha dengan keras menyembunyikan tangisnya, namun air mata masih lolos membasahi pipinya.

Aku, Mina dan Hiro menyaksikan semuanya tidak jauh dari tempat mereka berada. Kami menanti waktu yang sudah di tetapkan untuk menjalankan tugas. Sesekali Hiro menghela napas merasa jengah dengan drama yang entah sudah berapa ribu kali ia lihat ini, sedangkan aku dan Mina hanya menatap hampa ke arah mereka. Bukan berarti kami tidak peduli pada manusia yang akan kami ambil waktunya, bukan juga karena kami tidak memiliki perasaan, tapi memang hal-hal yang menyangkut emosi manusia bukanlah urusan kami.

“Sampai berapa lama ini akan berlangsung?” Tanya Hiro mulai tidak sabar.

“Tidak lama lagi.” Jawab Mina sambil melirik jam saku perak miliknya.

Dari luar ruangan samar-samar aku mendengar suara orang sedang berbisik-bisik. Seorang laki-laki berumur sekitar tiga puluh tahunan dan seorang gadis berumur dua puluh tahunan. Mereka juga merupakan anggota keluarga dari pria yang akan kami ambil waktunya, namun entah mengapa di saat orang-orang di dalam ruangan sedang bersedih, dua orang yang berada di luar ruangan itu malah seperti sedang meributkan sesuatu.

“Hanya segini bayaranmu? Setelah semua usaha yang kulakukan untuk melenyapkannya hanya segini yang kau berikan padaku?” Ujar laki-laki itu setengah berteriak hingga membuat gadis di hadapannya mencoba membungkam mulutnya dengan telapak tangan.

“Kecilkan suaramu bodoh nanti semua orang bisa dengar. Aku janji akan memberikan lebih dari itu ketika dia benar-benar sudah mati. Ketika ayah tiriku mati, semua harta kekayaannya akan jatuh ke tangan ibuku, setelah itu aku akan membayarmu dengan harga yang pantas.” Ucap sang gadis.

“Baiklah Red, aku akan menunggu, tapi jika kau mengingkari janjimu, aku akan memberitahukan semua hal ini pada White kalau kau dan ibumu menyuruhku untuk memasukkan racun ke dalam makanan ayahnya hingga ia seperti ini.” Ancam laki-laki itu kepada gadis yang ia panggil dengan nama Red.

“Benar kan apa yang kubilang, air matanya palsu dan sekarang aku muak melihatnya menangis seperti itu.” Gerutu Hiro sambil memasang wajah merendahkan wanita di sisi pria itu.

“Kasihan White. Ia sudah tidak memiliki siapapun yang bisa membantunya.” Iba Mina.

“Shussh… Itu bukan urusan kita. Ayo, sudah saatnya bekerja.” Titahku.

Kami merentangkan kedua tangan kami dan mengulurkannya ke hadapan pria yang terbaring di ranjang itu. Sebuah cahaya putih menyilaukan perlahan-lahan muncul dari dalam tubuh laki-laki itu. Cahaya itu lalu membentuk sebuah lingkaran dengan angka satu sampai dua belas mengelilinginya, persis seperti jam lengkap dengan jarum jam, menit, dan detiknya. Kami menyebutnya lingkaran waktu.

Hiro bertugas mematahkan jarum jam pada lingkaran waktu, tugas Mina adalah mematahkan jarum menit, dan aku mematahkan satu-satunya jarum yang tersisa yaitu jarum detik. Setelah ketiga jarum itu di patahkan sudah tidak ada waktu lagi yang orang itu miliki. Lingkaran waktu yang sudah tidak memiliki jarum jam, menit, dan detiknya perlahan-lahan sirna tergantikan dengan sosok seorang pria dengan aura keberadaan yang lemah berdiri di sisi ranjang dengan kebingungan sambil menatap tubuhnya tanpa nyawa di atas ranjang.

Wanita yang berada di samping tubuh tak bernyawa pria itu terlihat panik ketika dokter pribadi mereka sedang memeriksanya. Dan ketika dokter itu menggelengkan kepala tak memberinya harapan, tangisnya terdengar semakin keras hingga ke seluruh penjuru rumah sedangkan gadis yang berada di belakangnya tiba-tiba saja jatuh tidak sadarkan diri. Arwah pria itu dengan panik menghampiri sang gadis yang pingsan.

“White, maafkan ayah nak. Ayah tidak bisa menepati janji untuk melindungimu. Ayah benar-benar minta maaf.” Arwah laki-laki itu melihat putri kesayangannya tidak sadarkan diri.

“Bibi…!!! Bawa White ke loteng, pindahkan semua barang-barang yang ada di kamarnya ke loteng. Mulai saat ini kamar White adalah di loteng.” Seru wanita itu dengan sisa-sisa air mata di wajahnya. Raut sedihnya sudah hilang tergantikan dengan raut bahagia tiada tara karena baru saja mendapatkan harta suaminya yang baru saja meninggal.

“Tapi nyonya, nona White tidak sadarkan diri dan kamar di loteng sangat dingin. Bagaimana jika nona White sakit nanti?” Ucap wanita paruh baya yang beberapa saat kemudian datang dengan tergopoh-gopoh ke hadapan majikannya.

“Siapa yang peduli? Oiya, setelah itu bereskan barang-barangmu dan pergi dari rumah ini! Kau sudah tidak dibutuhkan lagi di rumah ini. White yang akan menggantikan posisimu.”

Arwah pria itu memandang tidak percaya ke hadapan istrinya. Ia pasti tidak pernah menyangka istri yang selama ini ia cintai bisa begitu kejam terhadap anaknya. Ia telah salah menilainya selama ini. White sudah menderita terlalu lama dan sekarang ia harus menanggung penderitaan itu lebih lama lagi.

Aku menghela napas. Kisah bahagia White belum dimulai ternyata karena ia masih harus menerima penderitaan yang sangat besar dari Red dan ibu tirinya. Aku selalu meyakini bahwa kejahatan tidak akan menang melawan kebaikan. Meskipun kejahatan itu berlangsung dalam jangka waktu yang sangat panjang, namun suatu hari nanti kebaikan pasti akan datang dan berdiam untuk wakti yang sangat lama juga. Semuanya setimpal, tinggal menunggu para pekerja di departemen pembagian waktu menjalankan tugas mereka saja.

Aku menoleh ke arah Mina dan Hiro, mereka menganggukkan kepalanya kepadaku memberikan isyarat bahwa mereka siap kembali ke kerajaan waktu. Kami mengeluarkan jam saku kami dan dengan bersamaan menekan tombol kembali di atas jam saku itu. Dalam sekejap kami sudah kembali ke pintu masuk ruang waktu. Aku merenggangkan tubuhku yang pegal karena pekerjaan kami yang melelahkan. Mina yang berada di tengah antara aku dan Hiro, merangkul bahu kami dan berjalan menyusuri lorong menuju pintu keluar. Tugas kami sudah selesai hari ini dan kami menantikan tugas selanjutnya yang diberikan kepada kami esok hari.

.

.

.

.

(END)

Selesai juga akhirnya.

Rada aneh rasanya karena aku belum pernah nulis cerita dengan genre yang seperti ini. Awalnya bingung mau buat cerita apa karena semua ide ceritaku yang lain bener-bener lagi berhenti di tengah jalan dan belum kepikiran lagi. 

Ide cerita ini muncul ketika ada temen yang bilang “lagi ga ada waktu” dan temen aku yang lain jawab “jangan ngomong gitu, kalo bener nanti lo ga dikasih waktu lagi gimana lo?” Dari situlah tiba-tiba kepikiran ide buat bikin cerita fantasi seperti ini.

Mohon maaf apabila Typo bertebaran dimana-mana, aku bukan sastrawan dan sekarang masih dalam proses belajar menulis.

Kritik yang membangun sangat diharapkan dan saran yang baik juga akan sangat diterima di kolom komentarnya. 

Advertisements

5 thoughts on “(Short Story) Time

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s